Bukan Laskar Pelangi [chapter 2]

 

 

Rumah Impian [part 2]
Masih hari yang sama, rumah yang kecil ini jadi sangat-sangat sumpek. Bayangkan, rumah satu tingkat diatas tipe 36 dijubeli oleh manusia-manusia sebanyak ini. Sebanyak apa? Hm…. ayah ada 6 bersaudara [yang pasti mengajak keluarga kecilnya masing-masing], belum lagi kakek-nenek, belum lagi saudara dekat lainnya . Ah, hitung sendiri saja!

Orang kota masuk desa? Atau orang desa masuk kota? Atau orang kota masuk kota? Atau orang desa masuk desa? Sejujurnya ini sebuah desa, desa Sukodadi kalau tak salah, tapi masalahnya saudara-saudaraku pada katrok semua. Seberapa katroknya mereka? Ayo mulai kita bayangkan saja.

1. Mereka begitu terperangah dengan adanya heater [air dari keran bisa panas sendiri, bagaimana bisa?]
2. Mereka begitu terperangah dengan adanya AC [jujur saja, belum ada yang punya AC dikeluarga ini, malang bukan?]
3. Mereka begitu terperangah dengan adanya alarm [Aku lupa namanya, tapi sungguh memalukan ketika alarm itu bunyi dan kami sekeluarga keluar, “ada apa? ada apa?” dikira ada apaan, padahal cuma alarm doank!]
4. Mereka begitu terperangah dengan kamar mandinya yang 2 X lipat luasnya dari kamar mereka di rumah, atau bahkan 5 X lipat kamar mandi mereka!
5. Mereka begitu terperangan dengan wastafelnya, belum lagi toilet duduknya, belum lagi… ah sudahlah, sampai disini saja, bayangkan saja sendiri orang katrok yang masuk rumah orang kaya!

Sesungguhnya aku tak begitu suka keramaian atau kebisingan, terlebih lagi banyak orang, entah kenapa aku tak suka. Ayah dan Ibuku terlihat begitu repot mengurus saudara-saudara dari jauh meskipun aku sendiri melihat kerutan tanda capek di wajah mereka. Sungguh aku berfikir aku bukan anak yang baik, yang malah tidur rebahan di situasi seperti ini. Tapi apa daya, kondisi tubuhku memang tak memungkinkan, aku anak yang gampang kecapekan, gampang sakit-sakitan. Bayangkans aja, setiap bukan puasa pasti aku tifus, setiap pagi pasti aku pilek, setiap dua bulan sekali pasti aku sakit batuk, belum lagi sakit-sakit yang lain, dasar penyakitan!

Ngomong-ngomong aku belum mendeskripsikan rumahku ini. Rumahku adalah rumah bergaya american, old american tepatnya, itu juga kalo aku tak salah kira. Ada taman yang luas di depan dan di belakang rumah. Cukup luas untuk sekedar melakukan pesta barbeque keluarga. Hm.. bahkan rumah depan rumah pernah buat pesta barbeque di garasi! ya, bahkan garasinyapun luas!

Di rumah ini ada tiga kamar tidur [yang selanjutnya hanya dua saja yang digunakan untuk tidur, satu kamar kita buat untuk tempat sholat], ada satu kamar mandi utama [yang besarny amembuat teman-teman sekolahku terperangah], ada satu kamar mandi pembantu [disinilah bertengger kloset jongkok], ada satu dapur pastinya, ada ruang tamu yang menjadi satu dengan kamar tengah, ada apa lagi ya… oia ada satu ruang tempat mesin cuci yang oleh keluarga kecilku juga difungsikan sebagai gudang. Cukup, hanya itu saja, tapi sudah lumayan mewah buat orang seperti tatia.

Rumah di perumahan ini sama, semua bercat putih. Benar-benar putih, bukan putih pucat atau putih tulang tapi hanya putih! Begitupun perabotannya, dari lemari, meja, kursi, meja makan semuanya putih. Hanya sofa saja yang berwarna, itupun masih didominasi warna putih!

Itulah warna wajib pertama di housing ini, putih. Ok, lalu apa warna wajib kedua? Biru adalah warna wajib kedua. Semua genteng di housing ini berwarna biru, sudah seperti menyatu dengan langit saja. Yah, sejauh ini cuma dua warna itu yang kulihat sebagai warna wajib disini, kita lihat saja selanjutnya.

Siang mulai meninggalkan dan sore mulai menyergap, beberapa kerabat jauh sudah mulai melambaikan tangan tanda untuk kembali pulang. Yang tersisa kini hanya kami [formasi satu keluarga kecil yang sempurna untuk iklan KB -dua anak cukup-, aku, ibu, ayah, dan adik kecilku yang lucu] ditambah nenek, dan satu adik ayahku yang paling bungsu. Let see… apa aku akan betah disini.

—bersambung—

29-12-2009, 11:11 AM

 

Facebook Comments

Comments

    1. Post
      Author
    2. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *