Bukan Laskar Pelangi [Chapter 5]

Idolaku
Mari aku perkenalkan kalian dengan idolaku yang paling dini. Namanya kak Novan, kalau tidak salah beda dua-tiga tahun denganku, dia sekolah di Santo Pius [atau santo paulus?], rumahnya di jalan Sumatra paling depan di sebelah kanan [jangan tanya utara-selatan padaku!]. Dan rumah yang paling pojok selalu mendapatkan lahan ekstra, aku selalu iri karenanya.

Namanya Novan, orang tuanya campuran antara Kristen dan Islam. Mungkin kalian akan heran dengan agamanya, bagaimana bisa, seorang Novan, bisa Islam dalam satu bulan, lalu Kristen di bulan yang lain, dan Islam lagi dan Kristen lagi dan Islam lagi…. Aku saja yang mendengarkan ceritanya pusing, apalagi dia yang menjalaninya? Jadi untuk kalian yang ingin menikah beda agama, sebaiknya pikirkan lagi baik-baik!

Aku tak pernah benar-benar bisa menggapainya karena aku menyedihkan. Dibekali nama Tatia tapi dengan wajah yang biasa-biasa saja, itu sangat menyiksa. Kak Novan dengan wajah chinese, peranakan dari dua ras [jawa kaya +china cantik], beruntung dia punya muka chinese dan cakep [hidung mancung, mata sipit tapi tak terlalu sipit, bibirnya meski tak penuh tapi sedap dipandang mata, muka tirus, badan ideal], karena adik-adiknya semuanya muka pribumi, ya begitulah Tuhan punya rencana. Aku memang kadang berbicara dengannya, tapi cuma dalam kalimat [atau bahkan frase!] yang sangat singkat. Keformalan semata atau hal-hal yang memang sangat penting.

Kulitku menghitam disini dan aku membencinya. Aku benci karena kulitku menjadi sebuah pe-adaptasi [mungkin kalau frasenya benar] yang baik . Aku bisa hitam di tempat yang panas dan lumayan kuning [coklat maksudnya] di tempat yang biasa-biasa saja. Aku benci itu!

Dan cinta monyetku kepada kak Novan tak pernah kesampaian. Kak Novan tumbuh menjadi remaja yang playboy, dan satu-satunya kalimat yang kuingat darinya adalah “Udah tau aku playboy masih mau aja”. Eh, ya memang mungkin itu ada benarnya. Tapi bagaimana bisa perempuan disini menolaknya. Dia sempurna, dan aku belum pernah melihat yang sesempurna dia di desa kecil ini [Paiton] dan kota kecil itu [Kraksaan], dua tempat dimana kita pulang pergi setiap hari. Mungkin dia semacam komoditi langka yang masuknya saja pakai quota. Jadi begitulah dia, berkelana dengan cinta. Beruntungnya.

Facebook Comments

Comments

  1. Ananoberto

    ketika dia sudah mcaeneanrkan sesuatu yang bakal ‘pasti’ dari kacamata manusia itu, dia justru makin resah, makin ‘ilfil’ katanya, merasa ga jelas dan rasa tak percaya bahwa sebentar lagi statusnya akan berbeda yah kayaknya semua wanita akan merasakan hal itu,, dan bukan hanya wanita, laki2 pun akan merasakan hal yang sama, aku menyebutnya sebagai usaha maksimum dari syaitan untuk menggagalkan manusia menjalankan perintah ALLAH, dan itu dialami juga oleh aku dan mantan pacarku (istriku) ..

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *