Bukan Laskar Pelangi [Chapter 6]


Malam ini malam yang panjang, aku melihat bintang disekeliling. Mala mini malam yang hening, ayah pergi dan ibu keluar dan aku hanya sendiri disini.
Mala mini aku sendiri. Kunyalakan tv, melihat hbo di Indovision yang jadi channel favoritku. Ninja-ninja kecil berlarian kesana-kemari mengejar mafia. Film standart buatan orang cina tapi aku suka. Kunyalakan AC yang remote-nya sudah ada di genggamanku, ku mainkan tanganku perlahan-lahan membentuk gugusan bintang. “Cancer,” gumanku perlahan.

Aku tidur rebahan di atas karper berwarna hijau yang teletak tepat di depan tv mungil 14”, satu-satu tv 14” di perumahan ini sepertinya. Setauku orang-orang disini tv-nya bagus-bagus. Tapi ayah ku memang tak suka berfoya-foya, sewaktu aku Tanya kenapa tak beli tv yang baru saja ayah malah bilang “Kan tv-ny amasih bias dipakai?”
Detik-demi detik ku lalui sendiri di rumah itu, agak sedikit menyeramkan memang, tapi pasti aku bias. Menyalakan televisi adalah salah satu kiatku untuk tetap bertahan menahan rasa takut. Karena dari mendengar suaranya paling tidak aku tau kalau aku tak sendirian, ada seseorang di luar sana, ya .. meski hanya di dalam tv.

Iklan di tv membawaku untuk memilih berjalan ke dapur, mencari kudapan kecil yang bisa membuang rasa penat. Ada yakult, ada beberapa kue ons-ons an dari indomaret, ada roti, ada beberapa chiky juga. Tanganku menyambar satu per satu makanan yang ada. Kembali ke ruang tengah dan melanjutkan nonton tv lagi.

Menunggu sangat membosankan, ini masih jam 8, mereka bilang akan pulang jam 9. Ah, masih satu jam lagi .

“Hayo kemaren siapa yang ketiduran di karpet?” samar-samar suara ayah kudengar.

“Si…a..pa…?” Kataku masih lemas, antara sadar dan tak sadar.

“Terang bulannya udah diabisin tuh sama mama…”

“Apa? Diabisin?” AKu baru ingat kalau aku aku titip terang bulan.
“Ga, ga, Cuma becanda. Makanya jangan tidur dulu.. masih sore kok udah tidur.”
“Ngantuk…” Lalu kulihat sekeliling, baru sadar aku ternyata berada di kamar. Pasti ayah menggendongku ke kamar ketika aku sudah tidur. Ah, ayahku emang ayah paling baik sedunia.
“Ngantuk kok diturutin, oh ia bukannya sekarang kamu ujian semester? Udah belajar?”
“Alah ga pake belajar juga udah dapet bagus.” Kataku.
“Loh, kok gitu?”
“Kan emang gitu ayahku yang paling cakep sedunia…. Aku ambil terang bulannya dulu ya, sekalian diangetin. Bi Inah udah dateng yah?”
“Alah ngangetin gitu aja pake nyuruh bi Inah, angetin sendiri aja sana gih.”
“Uh, apa gunany apunya pembantu.” Kataku sambil keluar dari kamar. Ayahku mengatakan sesuatu tapi hanya samar terdengar. Yah, itulah ayahku, kata ayah kalo masih bisa kita kerjakan sendiri janganlah nyuruh-nyuruh pembantu. Mereka udah sibuk, jangan disibukin lagi.Mungkin ayah memang terlalu baik. Yah, aku selalu bersyukur mempunyai ayah yang baik, tepatnya ayah yang terlalu baik…

tatia is offline  17-01-2010, 07:08 PM by PrincessTatia
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*