Hubungan Beda Agama [Sebuah Penyelesaian]


 penting:
Kalau boleh jujur, ts lebih suka jika trit ini dibaca oleh orang-orang yang mencari penyelesaian [baca judul kembali ]. Bukan orang-orang yang mencari permasalahan 

 

Hubungan beda agama, entah udah berapa trit, udah berapa curhatan, udah berapa orang yang ngalamin. Tapi toh tetep aja masalah yang repost banget ini berulang dan berulang kembali. Disini ts cuman pengen berbagi tentang penyelesaian masalah ini menurut sudut pandang ts dan mungkin bisa ditambahkan sama agan agan sekalian…

Pertama-tama kita bahas dulu tentang definisi tentang hubungan, hubungan seorang cewe dengan seorang cowo, bagaimanapn juga, sedini apapun juga, meski dari SMA atau kuliah, pasti ujung ujungnya buat dinikahin, dijadiin buat pendamping seumur hidup, buat kalian yang mikirnya cuman buat have fun, tinggalin aja trit ini karena ts ga ngebahas yang satu itu.

Berlanjut ke nikah, apa sih esensi dari nikah itu sendiri? Nikah itu kita yang dari keluarga yang berbeda bisa nyatu, nyatuin dua keluarga yang berbeda, dua makhluk yang berbeda, nyambungin dan akhirnya punya anak, punya keturunan.

Berlanjut ke keturunan, apa sih yang kita pengen dari keturunan kita itu? Keturunan kita mesti punya etika dan punya aturan donk, pendidikan yang baik, agama yang kuat dan… eits masuk kesini agama yang kuat.

Masuk ke agama, gimana anak kita bisa agamanya kuat kalo otunya beda agama? Yang satunya bilang sistem tritunggal dan yang satunya bilang Tuhan Maha Esa, yang laen lagingajarin pantheisme yang satunya ngajarin monotheisme. Nah lo!

Bicara tentang agama bicara tentang hal yang sakral, hal yang mengikat apapun yang kita lakukan di dunia ini, di agama kita masing masing ada larangan yang tak boleh dilakukan [jika dilakukan mendapat dosa dan masuk neraka] dan ada juga perintah [yang jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan masuk surge]. Tapi bagaimana jika agama sang suami dan sang istri berbeda? Bukankah larangan dan perintahnya juga akan berbeda pula? Bayangkanlah anaknya, sang ibu bilang “ini adalah perintah agama” sedangkan sang ayah bilang “itu bukan perintah agama”. Oklah kalau itu semua dipikirkan oleh seorang yang cukup dewasa, mampu berfikir mana yang baik dan mana yang buruk, paling tidak dia akan melakukan hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk [secara universal]. Tapi bagaimana jika perkataan kedua orangtuanya yang bertentangan itu sampai pada anak-anak yang masih berumur belasan tahun? Bahkan kurang dari itu? Bukannya itu malah akan membuat si anak bingung? Mana yang mesti dilakukan dan mana yang mesti ditinggalkan? Mana yang benar-benar benar dan mana yang sebenarnya salah? Bukannya dari sini sudah terlihat bahwa hubungan beda agama malah menyusahkan [calon] anak kita? Bukankah kita menyayangi [calon] anak kita? Apakah menyusahkan ekuivalen dengan menyayangi? Sepertinya tidak.

Dari poin menyayangi anak saja hubungan beda agama rasa-rasanya sudah pantas untuk diakhiri, tapi tunggu dulu bagaimana dengan poin yang lain? Poin agama kita sendiri jangan ditanya lagi, sepertinya pemeluk masing masing agama sudah lebih mengetahui bahwa nikah beda agama di ajaran agama mereka masing-masing itu terlarang, sudah tau ayatnya kan? Bukankah kalian pemeluk agama yang baik?

Dari poin agama kita coba berjalan ke poin yang lain, tentnag masalah pemimpin. Suami adalah pemimpim keluarga, sepertinya itu sudah menjadi rahasia umum. Dimana mana istri harus nurut sama suami sejauh apa yang suami suruh itu sesuai dengan ajaran agama. Tapi bisa kita bayangkan kalau suaminya beda agama? Apa yang disuruh suami itu pasti lebih banyak yang tidak sesuai dengan agama yang kita anut. Contoh kasar bagi istri yang bilang ke suami bahwa ia ingin memakai kerudung karena ingin menjalankan ajaran agamanya secara penuh. Bukankah kita seharusnya menjalankan agama kita secara penuh, bukan setengah-setengah? Bukankah menjalankan agama secara setengan-setengah itu lebih buruk dari sang atheis?

Bukankah sejauh ini sudah banyak minus dari hubungan beda agama itu sendiri? Jadi masihkah agan agan mau melanjutkannya?
“Tapi kita udah lima taun ngejalanin hubungan ini dan kami saling cinta, masa putus gitu aja?”
Dari tad its cuman nanya masih mau lanjut atau ga? Bukannya nyuruh buat putus  .Yaudahlah kalau kalian emang saling menyayangi, semoga sayang kalian itu akan berlanjut ke Surga. Eits kita bicara surga nih. Apaan tuh surge, he….

Surga adalah tempat kita kembali setelah kehidupan dunia ini, ini ajaran agama monotheist lo ya  Di surge kita bisa meminta apa yang kita inginkan dan lansung terwujud saat itu juga, di surga kita bisa minum minuman yang diharamkan di dunia dan makan makanan yang diharamkan di dunia, memakai apa yang diharamkan di dunia dan mendapatkan apa saja yang kita mau, perhiasan, rumah dari emas, bidadari-bidadari, sebenarnya penjelasan dari surge sudah lengkap di kitab kita, tinggal agan ngebaca ga 
Btw, bicara tentang surga dan keluarga pastinya kita ingin donk keluarga kita bisa berkumpul dan bahagia tidak hanya di dunia, tapi juga di kehidupan setelah dunia alias di surge. Yaiyalah, masa mau berkumpulnya di neraka 

Masalah berkumpul ini juga bisa kita jadiin alas an tentang hubungan beda agama tadi lo, ko bisa? Ya bisa donk, ts tau kalau di agama kita [kamu dan saya] orang-orang yang bisa masuk surga hanya yang seagama dengan kita [seagama dengan kamu dan seagama dengan saya]. Kalau ga seagama ga bisa donk masuk surga, orang dia ngomongnya kita kafir, nah dia ngomongnya kita itu domba yang tersesat, ya ga klop toh? Ya bisa bisanya kalo beda agama mah, si suami yang masuk surga dan si istri masuk neraka atau si istri masuk surge dan si suami masuk neraka [tergantung agama siapa yang di mata Tuhan emang terbukti BENER], ga enak kan? Itu masih masalah suami istri, belon anaknya 
Gimana donk caranya biar bisa masuk surge sama-sama? Ya harus seagama donk. He…. “Jadi ini gue pacaran lima taon mesti putus?”
He…. Oia yang ini belon dijawab yah daritadi. Hihihi sabar sabar, orang sabar disayang Tuhan 

Emang sih kalau awalnya kita single, lebih baik dari awal udah dicamkan di diri kita masing masing buat cari pasangan yang seagama. Tapi untuk yang sudah berpasangan, dan terlanjur pulah beda agama, kalau emang bisa pisah, yaudahlah pisah aja [kalo masih dapet sebulan dua bulan tinggal pegi aja sono ].
Tapi kalo emang udah tahunan dan chemistry diantara kalian kuat. Hm…. Boleh kok dilanjut.
“Oh ya? Hore…..”
Husss jangan bilang hore dulu, ini tapi ada syaratnya . Mau tau syaratnya apaan? Syaratnya tuh salah satu mesti convert.
“Yah… convert 

He… jangan nangis dulu, maksud ts convert itu bukan convert yang karena paksaan. KARENA KITA MAU NIKAH MAKA KAMU HARUS CONVERT. Bukan, bukan yang kaya gitu convertnya, Bukan juga convert boong-boongan yang cuman nulis agama sama di ktp aja, tapi ini agama beneran, kita bicarain tentang surga lo ya? Apa yang Tuhan liat, bukan yang manusia liat. Di mata manusia kita bisa aja bilang, gw udah convert, tapi di mata Tuhan? Apa iya beneran convert? Tuhan itu Maha Mengetahui lo.. ga bisa diboongin 
Cara convert yang bener menurut ts adalah mengkaji agama bersama-sama. Pasangan berdua sama-sama mencari agama yang BENER. Bener-bener BENER, yang bisa menuntun sekeluarga entar berkumpul dan bahagia ga cuman di dunia tapi juga di kehidupan setelah dunia. Pasangan berdua menjadi agama yang benar, mengkaji agama sic ewe dari alim ulama yang ada di agama cewe, dan mengkaji agama si cowo dari para rahib yang ada di agama si cowo. Bukannya malah belajar agama Islam dari pendeta dan belajar agama kristern dari kyai. Belajarlah pada ahlinya, jangan pada yang mengaku-ngaku ahlinya, apalagi yang bukan ahlinya sama sekali 

Jika kalian berdua memang mempunyai niat yang tulus untuk mencari kebenaran, Niscaya Tuhan akan memberikan jalan dan menuntuk kalian berdua pada KEBENARAN, KEBENARAN SEJATI yang hanya milikNYA semata.

Setelah kita mengkaji agama bersama-sama dan telah nyata mana agama yang BENAR dan mana agama yang SALAH. Maka bersegeralah untuk memeluk kebenaran dan meninggalkan yang salah. Jangan gengsi atau malu karena ternyata agama kalian yang salah, tapi bersyukurlah karena Tuhan Yang Maha Kuasa telah menurunkan PETUNJUK pada kalian 

Buka hati buka mata, lihat KEBENARAN yang benar-benar telah terukir nyata dihadapan dan masukkan itu kedalam lubuk hati terdalam 
Sekian dari saya dan terimakasih 

Siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya
Teranglah bahwa lebih mudah untuk memberi penerangan pada mereka yang merasa benar-benar membutuhkan penerangan daripada kepada mereka yang merasa telah mempunyai penerangan meskipun sebenarnya penerangan mereka itu redup 
Facebook Comments

Comments

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*