Sisi Gelap Pondok Pesantren

Mungkin tulisan ini subjektif, mungkin bisa dibilang sangat subjektif. Tapi saya ingin menulis tentang hal ini. Baca yang mau baca, tinggalkan jika tak mau.

 Saya tidak bilang semua pondok pesantren mempunyai sisi gelap, saya juga tidak bilang semua anak di pondok pesantren itu bejat. Siang ini saya ke salah satu pondok pesantren di jawa timur. Disini, santrinya bisa dengan leluasa pacaran, bahasa sini “gendaan”. pacarnya untuk menginap di pesantren (tapi di kamar dengan jenis kelamin yang sama “dititipin ke kamar temen yang cewe”)

Disini mandinyapun bareng-bareng, meski perempuan dengan perempuan dan lelaki dengan lelaki.. Tapi bukankah ada batasan aurat meskipun dengan sesama jenis? Saya kaget waktu mengambil wudhu dan melihat perempuan-perempuan itu dengan tenangnya bertelanjang dada satu antara lain dan mandi. Beberapa menurunkan celana dalamnya, dan itu dilihat juga oleh santriwati yang lain. Saya berpikir “bahkan ketika saya masih SMA, tidak ada teman saya yang mandi dengan saya dalam keadaan seperti itu, mandi bareng saya tidak pernah meski dalam keadaan ikut kegiatan ekstrakulikuler.”

Hal yang menurut saya, aneh. Saya jadi ingat pantai di australia yang seluruh orang yang masuk harus melucuti tubuhnya. Atau tempat mandi di Jepang yang tidak memperbolehkan pengunjungnya memakai sehelai pakaianpun (bahkan celana dalam saya tidak diperbolehkan). Saya berpikir, apa bedanya dengan disini?

Pondok pesantren yang santriwatinya bisa kongkow-kongkow di warung kopi, “nongkrong”. Bisa juga keluar dan “minum”. Di tempat lain, tidak menyaksikan secara langsung, hanya mendengar, “ojok mondok ndek kono engkok meteng, wong wes onok santrine seng meteng”. “Jangan mondok disana nanti hamil, orang sudah ada santrinya yang mengandung.” Tapi memang tidak semua pondok pesantren seperti itu, ada di tempat lain yang bahkan heran dan bertanya “pernah pegangan tangan sama cowo? gimana rasanya?”. Sangat polos. Pondok pesantren, sama halnya dengan sekolah. Cari tau dulu dan observasi, bagaimana anak anda nanti sangat ditentukan lingkungannya. Hati-hati saja menitipkan anak. Ah, kelam semuanya.

by PrincessTatia

With love and peace

Facebook Comments

Comments

    1. Post
      Author
  1. thetje

    saya sempet kaget waktu baca judulnya, untung saat saya baca ternyata isi artikel tidak seperti yang saya pikirkan.
    saran saya, judul artikel harap di ganti karena kurang sesuai dengan isi, yang anda sampaikan di atas bukan benar-benar merupakan ‘sisi gelap pondok pesantren’.
    kritik dari saya yaitu terdapat kesalahan dalam diksi yang anda gunakan, artikel tersebut tidak ditulis dengan subjektif melainkan sangat objektif.
    god bless 🙂

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*